daftar blog gratis penghasil uang

Search

Memuat...

Kamis, 18 Februari 2010

SLPTT Padi

1. INOVASI TEKNOLOGI PADI

Pemerintah bertekad mempercepat upaya peningkatan produksi padi nasional untuk memenuhi kebutuhan pangan yang terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dari tahun ke tahun.
Hal ini diimplementasikan, antara lain, melalui program Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN). Dimulai pada tahun 2007 hingga 2009, program P2BN ditargetkan mampu meningkatkan produksi
beras 5% setiap tahun. Salah satu strategi yang diterapkan dalam program P2BN adalah meningkatkan produktivitas padi melalui penerapan inovasi teknologi. Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Pertanian telah menghasilkan berbagai inovasi teknologi yang mampu meningkatkan
produktivitas padi, di antaranya varietas unggul yang sebagian di antaranya telah dikembangkan oleh petani. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, Badan Litbang Pertanian juga telah menghasilkan dan mengembangkan pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) yang ternyata mampu
meningkatkan produktivitas padi dan efisiensi input produksi. Dalam upaya pengembangan PTT secara nasional, Departemen Pertanian meluncurkan program Sekolah Lapang (SL) PTT. Panduan SL-PTT padi ini dimaksudkan sebagai: (1) acuan dalam pelaksanaanSL-PTT padi dalam upaya peningkatan produksi beras pada tahun 2008 di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota; (2) pedoman dalam koordinasi dan keterpaduan pelaksanaan program peningkatan produksi padi melalui SL-PTT antara di tingkat pusat, provinsi, dan kabupaten/ kota; (3) acuan dalam penerapan komponen teknologi PTT padi oleh petani sehingga dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola usahataninya untuk mendukung upaya
peningkatan produksi; dan (4) pedoman dalam peningkatan produktivitas, produksi, pendapatan, dan kesejahteraan petani padi. keadaan agroekosistem yang digunakan pada dua lembar kertas gambar (karton manila). Lembaran pertama untuk menggambarkan agroekosistem lahan sawah sekolah lapang dan lembar
kedua untuk agroekosistem laboratorium lapang. Gambar agroekosistem dibuat pada saat pengamatan dan berisikan potret pertanaman dan aspek yang mempengaruhi. Bagaimana dan apa yang
akan digambar? Tabel 4.
Jadwal pertemuan dalam satu hari. Waktu* Alokasi waktu Kegiatan (menit)
07.00-07.15 15 Kesepakatan hasil yang ingin dicapai pada hari itu
07.15-08.00 45 Pengamatan agroekosistem di sawah SL dan di LL
(komponen yang diamati tergantung kepada fase
pertumbuhan tanaman)
08.00-09.00 60 Menggambar keadaan agroekosistem
09.00-10.00 60 Diskusi subkelompok (proses analisis)
10.00-10.30 30 Diskusi pleno (pemaparan kesimpulan, dan
keputusan tiap subkelompok)
10.30-10.45 15 Rehat
10.45-11.15 30 Dinamika kelompok (mengakrabkan peserta)
11.15-11.45 30 Topik khusus
11.45-12.00 15 Evaluasi pencapaian hasil hari itu
*Waktu dapat disesuaikan dengan kesepakatan petani SL-PTT
21
• Tulis terlebih dahulu di kiri atas kertas gambar nama subkelompok,
tanggal pengamatan, dan fase tanaman.
• Gambarkan tanaman padi dengan jumlah anakan rata-rata hasil
pengamatan dari 20 rumpun, lebih baik menggunakan pensil
berwarna, sesuai dengan warna tanaman, misalnya hijau, agak
kekuningan, ada garis hijau di tulang daun, dsb. Beri catatan di
sebelah kiri gambar tentang tinggi tanaman, umur setelah tanam,
tanggal semai, tanggal tanam, dan kegiatan yang telah dilakukan
pada minggu yang lalu.
• Kalau ditemukan pada saat pengamatan, gambarkan serangga
hama dan musuh alaminya di sebelah kanan gambar. Tuliskan
nama dan rata-rata populasi hama dan musuh alami tersebut
serta rata-rata kerusakan tanaman (%) dari 20 rumpun.
• Jika ditemukan pada saat pengamatan, gambarkan pula penyakit
tanaman padi dan gejalanya, lalu catat tingkat kerusakan (%)
tanaman yang disebabkan oleh penyakit tersebut.
• Kalau ditemukan pada saat pengamatan, gambarkan gejala
tanaman yang mengalami kekurangan hara
• Gambarkan pula jenis dan nama gulma yang ditemukan, dan
catat kondisi populasinya.
• Catat lingkungan fisik lahan, air, matahari, dan faktor iklim
lainnya seperti keadaan cuaca, hujan, gerimis, berawan, dsb.
Diskusi kelompok
Dua gambar agroekositem yang dibuat sesuai dengan hasil pengamatan
pada lahan sawah sekolah lapang dan petak laboratorium lapang
didiskusikan di subkelompok masing-masing. Intisari dari diskusi
tersebut dibuat dalam bentuk tabel sebagaimana dicontohkan pada
Tabel 5.
Data yang disajikan pada tabel tersebut diharapkan dapat memberikan
pemahaman kepada setiap peserta SL-PTT di masing-masing
subkelompok, sehingga tahu apa yang harus dilakukan pada lahan
sawah mereka. Dalam diskusi, pemandu memberikan penjelasan dan
menghimpun umpan balik dari peserta tentang kegiatan usahatani,
22
misalnya sumber pupuk tunggal atau pupuk majemuk, dan untung
rugi setiap kegiatan yang dilakukan.
Formulir pada Lampiran 3 dapat digunakan oleh pemandu sebagai
acuan dalam menandai ketuntasan adopsi komponen teknologi PTT
oleh petani peserta SL-PTT.
Tabel 5. Contoh analisis perbandingan agroekosistem lahan sawah sekolah lapang
dengan laboratorium lapang dan tindak lanjutnya.
Sub- Sawah SL Petak LL Keputusan
kelompok di sawah SL*
I Warna daun nilai 3 Warna daun nilai 5 Tambah pupuk
Air tergenang < 5 cm Air tergenang < 5 cm +
Populasi hama di atas Populasi hama di bawah Dikendalikan
ambang setelah dikoreksi ambang setelah dikoreksi
dengan musuh alami dengan musuh alami
Keparahan penyakit di Keparahan penyakit di +
bawah ambang bawah ambang
II Warna daun nilai 3 Warna daun nilai 5 Tambah pupuk
Air tergenang < 5 cm Air tergenang < 5 cm +
Populasi hama dibawah Populasi hama di bawah
ambang setelah dikoreksi ambang setelah dikoreksi
dengan musuh alami dengan musuh alami +
Keparahan penyakit di Keparahan penyakit
bawah ambang di bawah ambang +
III dst dst dst
IV dst dst dst
V dst dst dst
*Catatan: Bila sama analisis agroekosistem di sawah SL dan LL, maka diberi
nilai + pada keputusannya, sebagai penghargaan prestasi bagi
kelompok tani
23
Diskusi pleno
Dalam diskusi pleno setiap kelompok diberi kesempatan melaporkan
hasil analisis agroekosistem secara singkat, lugas, dan tegas.
Kesimpulan dari diskusi ini digunakan sebagai bahan dalam
pengambilan keputusan oleh subkelompok, terutama yang terkait
dengan pertanaman di lapang. Keputusan ditetapkan oleh ketua/wakil
ketua subkelompok, terutama untuk mencegah pertanaman dari
kerusakan.
Diskusi pleno memberikan kesempatan kepada petani peserta
SL-PTT untuk berani berbicara dan mengungkapkan masalah yang
dihadapinya. Hal ini penting artinya untuk melatih petani berbicara
di depan umum. Bila di kemudian hari ada kunjungan aparat dari
dinas pertanian dan institusi lainnya, mereka sudah mampu berbicara
tentang kondisi usahataninya. Dalam hal ini, pemandu hanya berperan
sebagai fasilitator.
Topik khusus
Topik khusus yang dibicarakan dalam pertemuan adalah masalah
nonteknis, misalnya kelangkaan pupuk dan cara mengatasinya,
dukungan gapoktan setempat, dsb. Bila tidak ada permasalahan
khusus, pemandu hendaknya mengambil inisiatif agar diskusi dapat
berlangsung hangat. Hal yang dibicarakan dapat berupa perkiraan
munculnya hama pada musim tertentu, field trip, rencana pembentukan
organisasi, penangkaran benih, dsb.
Dinamika kelompok
Kegiatan dinamika kelompok diperlukan untuk menambah wawasan
peserta SL-PTT tentang beberapa hal, seperti kerja sama, komunikasi,
dan organisasi. Pada awal pembentukan kelompok atau subkelompok,
tugas utama pemandu adalah menciptakan suasana yang mendukung
para peserta untuk saling mengenal, termasuk pemandu sendiri.
24
Kegiatan dinamika kelompok juga dimaksudkan untuk menumbuhkan
kekompakan dan keinginan perserta menjadi petani yang
dinamis, luwes dalam bergaul, saling mendukung, dan saling memberi
pengalaman. Beberapa permainan yang dapat digunakan untuk tujuan
tersebut antara lain adalah:
1. Perkenalan dan pengakraban: permainan rantai nama, menggambar
wajah, membuat barisan, kapal tenggelam, dan Samson-
Delilah
2. Penyegar suasana: permainan tolong tangkap, pecah balon, dan
ikuti saya
3. Kreatifitas: permaian sembilan titik, potong sebanyak mungkin,
berapa bujur sangkar, dan penjepit kertas
4. Kerja sama: permainan menggambar rumah, bermain tali, saling
percaya, dan membimbing tuna netra
Studi khusus
Agar peserta SL-PTT dapat memahami konsep, prinsip, dan
implementasi teknologi PTT secara benar, maka perlu materi
penunjang berupa studi khusus yang bersifat praktis, sederhana,
mudah dilaksanakan, waktu relatif singkat, dan dapat cepat menjawab
permasalahan petani. Studi khusus dapat dilakukan di petak sekolah
lapang, bergantung pada kesepakatan subkelompok. Dalam hal ini,
yang melakukan studi adalah petani sendiri.
Praktek petani di lahan sekolah lapang
Dengan adanya pertemuan mingguan, petani peserta SL-PTT akan
datang di petak laboratorium lapang untuk melakukan pengamatan
dan menganalisis mengenai masalah yang terjadi. Mereka diharapkan
dapat membandingkan masalah tersebut dengan kenyataan yang ada
pada lahan sekolah lapang. Bila terdapat perbedaan penampilan
tanaman antara di laboratorium lapang dengan di lahan sekolah
lapang, misalnya, petani diharapkan sudah mampu mengatasinya.
Oleh karena itu, petak laboratorium lapang harus dapat menjadi
acuan bagi petani.
25
Temu Lapang Petani
Sebelum panen, petani peserta SL-PTT dianjurkan untuk mengadakan
temu lapang sebagai media komunikasi antara petani dengan aparat
dari dinas terkait, peneliti, petani nonSL-PTT, dan masyarakat tani
pada umumnya. Acara ini diperlukan dalam upaya memperkenalkan
PTT dan alih teknologi kepada masyarakat di sekitar SL-PTT. Pada
saat temu lapang, peserta sekolah lapang menampilkan proses SLPTT,
hasil kajian, analisis agroekosistem, organisasi kelompok tani,
dan diskusi di lapang pada saat pertanaman akan di panen.
Pengorganisasian SL-PTT
Setiap desa SL-PTT dipandu oleh pemandu lapang (penyuluh
pertanian, POPT, dan peneliti). Peserta adalah petani dalam kawasan
25 ha. Petani dibagi ke dalam beberapa subkelompok tani yang
jumlahnya sekitar 20-30 orang per subkelompok. Dari 25 han lahan
SL-PTT, 24 ha di antaranya dikelola oleh subkelompok tani dan
sisanya 1 ha untuk laboratorium lapang dikelola oleh pemandu lapang
atau petugas PL II dari Dinas Pertanian dan atau Balai Pengkajian
Tenologi Pertanian setempat.
Sarana dan Prasarana
Kelompok tani
Kelompok tani dipilih berdasarkan kriteria:
• Sentra produksi padi
• Respon terhadap inovasi baru
• Luas hamparan adalah 25 ha untuk padi inbrida dan 15 ha untuk
padi hibrida
• Air pengairan terjamin sepanjang musim
• Memiliki anggota aktif
• Hamparan dekat jalan yang mudah dilintasi kendaran roda 4,
dan menjadi lalu lintas petani
26
Petani peserta
Petani peserta dipilih berdasarkan kriteria
• Bisa membaca dan menulis
• Usia produktif
• Berasal dari satu hamparan 25 ha
• Sanggup mengikuti SL-PTT selama 1 musim
• Mempunyai lahan garapan
Tempat belajar
Peserta SL-PTT menghabiskan hampir 85% waktunya untuk belajar
di lapang, hanya 15% waktunya yang digunakan untuk belajar di
ruangan atau di tempat lain (di pasar untuk diskusi harga dll).
Lahan belajar
Lahan belajar petani adalah di petak laboratorium lapang seluas 1
ha. Pengalaman dan pelajaran yang diperoleh dari laboratorium lapang
diimplementasikan pada lahan sawah miliknya sebagai lahan sekolah
lapang.
Bahan dan alat belajar
Bahan dan alat belajar yang digunakan harus bersifat praktis,
sederhana, mudah didapat, terdiri atas alat tulis (kalau bisa berwarna),
bahan praktek, petunjuk lapang, alat peraga, dll.
Sertifikat
Peserta yang berhasil menyelesaikan SL-PTT perlu diberi sertifikat
dengan tingkat kelulusan yang berbeda, misalnya sangat memuaskan
dan memuaskan, setelah melalui proses wawancara tentang keterampilan
pelaksanaan penerapan PTT dan mengikuti pertemuan
minimal sebanyak 80%.
27
Evaluasi
Evaluasi petani
Evaluasi proses belajar (alih teknologi) dilakukan untuk mengetahui
tingkat kehadiran, aktivitas, dan pemahaman peserta terhadap materi
yang dipelajari dalam SL-PTT, serta tingkat implementasinya di lahan
sekolah lapang. Evaluasi dilakukan melalui pengamatan, wawancara
langsung, pengisian matrik penanda adopsi teknologi dan matrik
kualitas seperti disajikan pada Lampiran 3 dan 4.
Evaluasi pelaksanaan SL-PTT
Evaluasi pelaksanaan pelatihan dilakukan berjenjang. Bagi pemandu
lapang tingkat kecamatan/desa, evaluasi dilakukan oleh PL II, evaluasi
terhadap pelaksanaan pelatihan bagi PL II dilakukan oleh PL I,
sedangkan pelaksanaan pelatihan bagi PL I dievaluasi oleh narasumber/
BB-Padi.
Worskshop
PL I melaporkan pelaksanaan SL-PTT di tingkat provinsi dalam suatu
lokakarya yang dihadiri oleh narasumber dan peneliti BB-Padi.
Laporan
Laporan pelaksanaan SL-PTT dibuat oleh PL II, penyuluh pertanian,
POPT, dan bersama PBT membuat laporan kegiatan mingguan dan
laporan akhir musim. Laporan berisikan data dan informasi tentang
analisis agroekosistem mingguan, produktivitas, peningkatan produksi,
dan masalah yang terkait dengan SL-PTT.
Laporan tersebut disampaikan oleh PL II kepada Kepala Dinas
Pertanian Kabupaten/Kota dengan tembusan kepada PL I. Laporan
diteruskan oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten/Kota kepada
Kepala Dinas Pertanian Provinsi dengan tembusan kepada Kepala
BPTP setempat. Dari Dinas Pertanian Propinsi laporan diteruskan
kepada Direktur Jenderal Tanaman Pangan.
28
PENUTUP
Peningkatan produktivitas padi melalui pendekatan SL-PTT
merupakan salah satu strategi yang diharapkan mampu memberikan
kontribusi yang lebih besar terhadap produksi padi nasional.
Pendekatan ini akan berhasil meningkatkan produksi dan pendapatan
petani apabila didukung oleh semua pihak, termasuk pemangku
kepentingan baik di hulu, onfarm, mapun hilir, dan pelaksanaannya
terkoordinasi secara sinkron dan sinergis di setiap tingkat, mulai
dari pusat, provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, hingga ke tingkat
desa. Dengan pendekatan tersebut SL-PTT diharapkan tersosialisasi
secara luas dalam upaya percepatan pengembangan PTT secara
nasional.
Untuk menambah pengalaman dan wawasan, para pemandu SLPTT
disarankan membaca publikasi yang terkait dengan PTT, seperti
petunjuk teknis PTT, deskripsi varietas, dan masalah lapang hama,
penyakit, dan hara padi yang sudah diterbitkan oleh BB-Padi.
29
Lampiran 1. Daftar publikasi penunjang.
No. Judul publikasi
1. Deskripsi Varietas Unggul Baru Padi
2. Daerah Pengembangan dan Ajuran Budi Daya Padi Hibrida
3. Petunjuk Teknis PTT Padi Sawah
4. Petunjuk Teknis PTT Padi Gogo
5. Petunjuk Teknis PTT Padi Sawah Tadah Hujan
6. Petunjuk Teknis PTT Lahan Rawa Lebak
7. Petunjuk Teknis PTT Lahan Rawa Pasang Surut
8. Masalah Lapang Hama, Penyakit, Hara pada Padi
9. PHSL Padi Sawah Irigasi
10. Bagan Warna Daun
11. Omission Plot
30
Lampiran 2. Daftar topik khusus SL-PTT padi.
No. Pertemuan Umur Kegiatan dan topik Buku sumber
ke tanaman khusus
1 M-4 ± 28 hari Pupuk organik Pupuk dan
sebelum tanam Pembuatan kompos Pemupukan
2 M-3 ± 21 hari PRA dan penentuan pola Petunjuk
sebelum tanam tanam. Identifikasi masalah PRA
dan introduksi komponen
teknologi
3 M-2 ± 14 hari Pengolahan tanah Buku Padi
sebelum tanam Aplikasi bahan organik Juknis PTT
Penentuan varietas Diskripsi
Pembuatan pesemaian dan varietas padi
perlakuan benih Juknis PTT
4 M-1 ± 7 hari Konsep PHT PHT Padi
sebelum tanam Cara menggunakan PUTS Manual PUTS
5 1 0 hari Sistem tanam, cara tanam, Juknis PTT
populasi dan umur bibit, Juknis PTT
Pengaturan irigasi,Konsep Permentan No. 40
pupuk berimbang, Kondisi
cuaca
6 2 ± 7 hari Pengenalan bahan kimia PHT Padi
setelah tanam pertanian Juknis PTT
Pemupukan dasar
7 3 ± 14 hari Fase anakan aktif Buku Padi
setelah tanam Cara penggunaan BWD Juknis PTT
Mengenal hama/penyakit PHT Padi
tanaman padi dan musuh
alami
8 4 ± 21 hari Pengendalian gulma terpadu Juknis PTT
setelah tanam Siklus hidup dan jaring- PHT Padi
jaring makanan serangga
9 5 ± 28 hari Pemupukan susulan Juknis PTT
setelah tanam Pengelanan kahat hara Juknis PTT
10 6 ± 35 hari Pencegahan OPT dan PHT Padi
setelah tanam pertumbuhan populasi tikus
11 7 ± 42 hari Ambang ekonomi OPT PHT Padi
setelah tanam
12 8 ± 49 hari Anatomi primordia bunga Buku Padi
setelah tanam Pemupukan susulan Juknis PTT
31
Lampiran 2. Lanjutan.
No. Pertemuan Umur Kegiatan dan topik Buku sumber
ke tanaman khusus
13 9 ± 56 hari Perkembangan malai dan Buku Padi
setelah tanam bunga PHT Padi
Racun dalam pertanian
aspek kesehatan
14 10 ± 63 hari Pemakaian PPC/ZPT Pupuk dan
setelah tanam pemupukan
15 11 ± 70 hari Fase masak susu Buku Padi
setelah tanam Demontrasi keracunan PHT Padi
pestisida
16 12 ± 77 hari Sarana penggerak masyarakat PHT Padi
setelah tanam
17 13 ± 85 hari Fase masak fisiologi Buku padi
setelah tanam Pestisida yang dilarang PHT Padi
untuk padi
18 14 Panen Fase masak penuh Buku Padi
Perhitungan hasil PHT Padi
32
Lampiran 3. Acuan analisis agroekosistem sebagai penanda pencapaian adopsi komponen teknologi.
Perencanaan sebelum
tanam
Varietas unggul baru anjuran
memberikan peluang untuk mencapai
target peningkatan produktivitas
Penggunaan varietas
unggul
Varietas padi yang digunakan
adalah varietas anjuran
Area
pengelolaan
Komponen Manfaat
teknologi
Kriteria penanda
pencapaian adopsi
komponen teknologi
Benih bermutu menghasilkan bibit
yang sehat dengan perakaran lebih
banyak akan tumbuh lebih cepat,
merata.
Benih berlabel biru lebih murni, lebih
bersih dan lebih seragam dengan
daya kecambah paling rendah 85%
Penggunaan benih
bermutu dan bibit
sehat
Benih berlabel biru pada
kemasan dan daya tumbuh
tinggi. Pemisahan benih
bernas dilakukan dengan
teknik pengapungan
Bibit muda umur kurang dari 21 hari
setelah sebar (HSS) berpeluang
menghasilkan anakan lebih banyak
dan stres tanaman rendah karena
kerusakan akar minimal
Umur bibit muda Bibit yang ditanam pindah
umur kurang dari 21 HSS
Pemeliharaan
Tanaman
Jumlah rumpun tanaman optimal
akan menghasilkan lebih banyak
malai per meter persegi, memberi
peran besar untuk pencapaian target
hasil tinggi
Tandur jajar legowo meningkatkan
hasil dan menekan hama-penyakit
Pengelolaan tanaman
untuk mendapatkan
rumpun tanaman
optimal
Jumlah rumpun tanaman
permeter persegi pada 14 hari
setelah tanam: Legowo 21-40,
Tegel 16-25
Jumlah minimal anakan per
rumpun pada awal
pembentukan malai: Legowo
9-18, Tegel 15-23
Pilih salah satu varietas
yang dianjurkan
ditingkat kabupaten
Anjuran
budi daya
Pisahkan dan buang
benih yang apabila
direndam dalam air
garam atau abu dapur
mengambang
dipermukaan air.
Tanam pindah bibit
umur kurang dari 21
HSS
Jumlah benih yang
disemai ditentukan oleh
sistem tanam, umur
bibit dan jumalh bibit
per rumpun. Tandur
jajar legowo
33
Pemupukan nitrogen sesuai dengan
kebutuhan tanaman dan pemupukan
P dan K sesuai dengan status hara
akan meningkatkan efisiensi input
dan membuat tanaman sehat
Pemupukan
berimbang
Warna daun tanaman diatas
ambang dari pembacaan
BWD tidak terilihat kahat/
keracunanJumlah rumpun
tanaman optimal tercapai
Area
pengelolaan
Komponen Manfaat
teknologi
Kriteria penanda
pencapaian adopsi
komponen teknologi
Jika serangan burung, tikus, atau
hama penyakit mencapai 10%,
menyebabkan berkurangnya anakan
produktif dan jumlah malai bernas,
hasil yang diperoleh akan menurun.
Pengendalian gulma sangat penting
pada periode awal sampai 30 hari
setelah tanam.
Pengendalian hama
terpadu sesuai OPT
sasaran
Pastikan tidak ada kehilangan
hasil karena hama dan
penyakit
Lampiran 3. Lanjutan.
Pemupukan efisien
menggunakan BWD
dan PUTS/petak
omisi/Permentan No.
40/OT.140/4/2007,
atau soft ware Sistem
Pakar Pemupukan Padi
(SIPAPUKDI)
Anjuran
budi daya
Terapkan berbagai
teknik pengendalian
bertahap sesuai stadia
tanaman.
Lakukan pengamatan,
kendalikan dengan
pestisida apabila kondisi
melebihi ambang
kendali.
Kendalikan gulma saat
tanaman muda secara
manual, landak maupun
dengan herbisida.
34
Mikroorganisme tanah dan akar
tanaman akan tumbuh dengan baik
Perbaikan aerasi
tanah
Pematang sawah cukup tinggi
dan saluran irigasi yang
memasok air ke hamparan
baik.
Area
pengelolaan
Komponen Manfaat
teknologi
Kriteria penanda
pencapaian adopsi
komponen teknologi
Lampiran 3. Lanjutan.
Menunda daun senescen dan
mengurangi kerusakan daun akibat
infeksi patogen
Pupuk cair atau
suplemen lainnya
Apabila keadaan
keuangan
memungkinkan dapat
dilakukan aplikasi
pupuk cair/suplemen
lainnya
Dilakukan aplikasi pupuk
cair/suplemen lainnya sesuai
dengan dosis anjuran
Penambahan bahan organik
mmperbaiki tekstur tanah, disamping
mengurangi penambangan hara
Penambahan bahan
organik
Jerami padi tidak
dibakar. Tambahkan
bahan organik bukan
sebagai sumber hara
utama, tetapi sebagai
pembenah tanah
Jerami padi tidak dibakar
Bahan organik ditambahkan
ke dalam sawah dengan
dosis 2 ton/ha
Lakukan pengenangan
dan pengeringan
petakan sawah secara
bergantian
Anjuran
budi daya
35
Panen terlalu awal menyebabkan
gabah hampa, gabah hijau, dan
butir kapur tinggi. Panen terlambat
menyebabkan kehilangan hasil
karena gabah rontok di lapangan
dan meningkatkan beras patah saat
penggilingan
Untuk mendapatkan mutu gabah
yang lebih baik dan harga yang
lebih tinggi, kadar air gabah harus
secepatnya diturunkan agar terhindar
dari kerusakan. Penundaan
perontokan 1-2 hari menurunkan
mutu gabah dan meningkatkan
kehilangan hasil, terutama jika
terjadi hujan waktu penumpukan
padi setelah panen
Penanganan panen
dan pascapanen
Panen dilakukan bila 1/5 dari
malai atau 4-5 gabah pada
bagian malai telah mengeras
Perontokan gabah palinag
lama 1-2 hari setelah panen
Area
pengelolaan
Komponen Manfaat
teknologi
Kriteria penanda
pencapaian adopsi
komponen teknologi
Lampiran 3. Lanjutan.
Panen dan
Pascapanen
Panen pada waktu
yang tepat.
Anjuran
budi daya
36
Lampiran 4. Matrik kualitas untuk kegiatan latihan SL-PTT.
Kegiatan Tahap Catatan Petunjuk kualitas
Pertanyaan,
permasalahan dan
skenario-skenario
diajukan oleh
pemandu kepada para
peserta. Maksudnya
adalah untuk
mendukung adanya
diskusi dan analisa
secara mendalam
tentang keadaan
lapangan dan
memecahkan masalah.
Analisa
gambaran
agroekosistem
Sebelum kegiatan dimulai,
para peserta diberitahu
tentang tujuan kegiatan dan
proses yang harus diikuti
dalam kegiatan tersebut.
APA INI?
Dialog yang
memperhatikan
fungsi
Pertanyaan dijawab
dengan pertanyaan,
jawaban menolong
peserta menemukan
fungsi. Mendorong
munculnya analisa
kritis
Proses
pertanyaan
Pertanyaan-pertanyaan yang
diajukan tidak dijawab,
akan tetapi dibalas dengan
pertanyaan-pertanyaan yang
menyelidiki lebih jauh.
Petanyaan-pertanyaan yang
ditanya oleh pemandu
mengarah pada hubungan
fungsional (mis. antara
hama dan musuh alami atau
antara hama dan tanaman)
yang ada dalam
agroekosistem.
Petani menemukan
sendiri jawaban atas
pertanyaannya.
Hasil Para peserta mampu
menyebutkan hubungan
fungsional dalam
agroekosistem.
AGROEKOSISTEM
Merupakan
kegiatan utama
guna
mengembangkan
pemahaman
tentang konsep
PTT yang baik
dan benar, seperti
misalnya:
Pemilihan
komponen
teknologi.
Pengamatan
mingguan.
Analisa keadaan
sawah.
Pengambilan
keputusan.
Peserta dijelaskan
bagaimana
melakukan PRA
Peserta dan pemandu
melakukan transek
Peserta mengamati
dan mencatat sumber
daya yang tersedia,
kendala biofisik dan
memikirkan peluang
pemecahan.
Pelaksanaan
PRA
Sebelum kegiatan dimulai
para peserta diberitahu
tentang tujuan kegiatan dan
proses yang harus diikuti
dalam kegiatan tersebut.
Selama melakukan kegiatan
peserta memahami kondisi
lapangan.
Para peserta mencatat apa
yang mereka amati.
Peserta aktif berdikusi.
Terpilih komponen
teknologi yang sesuai
37
Lampiran 4. Lanjutan.
Kegiatan Tahap Catatan Petunjuk kualitas
Tujuannya adalah
untuk
mengembangkan
ketrampilan
pengambilan
keputusan dan
analisa.
Pemandu membantu
peserta mencapai
tujuan tersebut.
TOPIK KHUSUS
Untuk beberapa
aspek PHT
(biologi, ekologi
dan ekonomi)
Para peserta jelas
mengenai maksud
dan tujuan kegiatan
ini.
Tujuannya Sebelum kegiatan
berlangsung, pemandu
menerangkan tujuan dan
proses kegiatan topik
khusus.
Para peserta mencapai
tujuan kegiatan.
Peserta menganalisa
kegiatan yang
dilakukan dengan
dibantu pertanyaanpertanyaan
pemandu
sehingga peserta tahu
apa yang telah
dilakukan.
Hasil Para peserta dapat
menyajikan hasil kegiatan
dan meringkas apa yang
sudah dilakukan dalam
kegiatannya.
Peserta dapat menerangkan
apa yang telah mereka
pelajari dari kegiatan yang
sudah dilakukan.
Pemandu mengajuka
pertanyaan-pertanyaan untuk
membantu peserta
memahami kegiatan yang
sudah dilakukan,
menerapkan apa yang sudah
mereka pelajari kedalam
“kehidupan nyata”
Para peserta jelas
mengenai apa yang
harus dilakukan,
semua peserta aktif.
Proses Selama kegiatan
berlangsung para peserta
terlibat dan berpartisipasi
secara aktif.
Kegitan kelompok tidak
didominasi oleh satu orang
peserta maupun pemandu.
38
Lampiran 4. Lanjutan.
Kegiatan Tahap Catatan Petunjuk kualitas
Pemandu mengajukan
pertanyaan untuk
membantu para
peserta dalam
menganalisa kegiatan.
Diskusi mengenai apa
yang dilakukan dalam
kegiatan, poin-poin
yang penting, dan apa
yang dipelajari oleh
peserta.
Analisa Pemandu mengajukan
pertanyaan-pertanyaan untuk
membantu peserta
memahami kegiatan yang
dilakukan dan menerapkan
apa yang sudah mereka
pelajari kedalam “kehidupan
nyata”.
DINAMIKA
KELOMPOK
Untuk
memperbaiki
ketrampilan
bekerjasama dan
pemecahan
masalah
Pemandu menjelaskan
maksud dan tujuan
kegiatan sebelum
kegiatan dimulai.
Sarana belajar tersedia
sebelum kegiatan
dimulai.
Waktu kegiatan cukup
Proses Sebelum kegiatan
berlangsung pemandu
memberitahu peserta tentang
tujuan dan proses kegiatan
yang akan dilakukan.Semua
peserta terlibat aktif dalam
kegiatan.
BALLOT-BOX
Proses evaluasi
yang dapat
digunakan sebagai
“pre-test” dan
“post-test” untuk
menilai
ketrampilan di
lapangan
Pertanyaan
berdasarkan keadaan
lapangan setempat
memperhatikan
fungsi-fungsi yang
ada dalam ekologi
sawah, bukan nama
serangga atau produk.
Apabila digunakan
untuk pre-dan posttest
maka keduaduanya
menilai
tingkat keterampilan
sama
Persiapan Soal-soal benar-benar
beradsarkan pengetahuan
dan ketrampilan lapangan
Nama-nama latin tidak
digunakan
Para peserta benarbenar
memahami
kerjasama maupun
pengambilan
keputusan.
Hasil Para peserta dapat
menerangkan apa yang telah
mereka pelajari dari kegiatan
yang sudah dilakukan.
Sebagai sarana
pendorong belajar dan
evaluasi kegiatan
Hasil Pemandu menggunakan
sebagai sarana pendorong
belajar dan memperhatikan
serta mempertimbangkan
isinya.

4 komentar:

  1. TRIMAKASIH INFONYA PENTING BUAT SAYA SELAKU THL TBPP

    BalasHapus
  2. opet_uh@yahoo.com5 Mei 2010 00.00

    tambah ngguanteng wae pak bosssssssssssssssss

    BalasHapus
  3. MARI KITA BUAT PETANI TERSENYUM KETIKA PANEN TIBA

    Petani kita sudah terlanjur memiliki mainset bahwa untuk menghasilkan produk-produk pertanian berarti harus gunakan pupuk dan pestisida kimia.
    NPK yang antara lain terdiri dari Urea, TSP dan KCL serta pestisida kimia pengendali hama sudah merupakan kebutuhan rutin para petani kita, dan sudah dilakukan sejak 1967 (masa awal orde baru) hingga sekarang.
    Produk hasil pertanian mencapai puncaknya pada tahun 1984 pada saat Indonesia mencapai swasembada beras dan kondisi ini stabil sampai dengan tahun 1990-an. Capaian produksi padi saat itu bisa 6 -- 8 ton/hektar.
    Petani kita selanjutnya secara turun temurun beranggapan bahwa yang meningkatkan produksi pertanian mereka adalah Urea, TSP dan KCL, mereka lupa bahwa tanah kita juga butuh unsur hara mikro yang pada umumnya terdapat dalam pupuk kandang atau pupuk hijau yang ada disekitar kita, sementara yang ditambahkan pada setiap awal musim tanam adalah unsur hara makro NPK saja ditambah dengan pengendali hama kimia yang sangat merusak lingkungan dan terutama tanah pertanian mereka semakin rusak, semakin keras dan menjadi tidak subur lagi.
    Sawah-sawah kita sejak 1990 hingga sekarang telah mengalami penurunan produksi yang sangat luar biasa dan hasil akhir yang tercatat rata-rata nasional hanya tinggal 3, 8 ton/hektar (statistik nasional 2010).

    Tawaran solusi terbaik untuk para petani Indonesia agar mereka bisa tersenyum ketika panen, maka tidak ada jalan lain, perbaiki sistem pertanian mereka, ubah cara bertani mereka, mari kita kembali kealam.

    System of Rice Intensification (SRI) yang telah dicanangkan oleh pemerintah (SBY) beberapa tahun yang lalu adalah cara bertani yang ramah lingkungan, kembali kealam, menghasilkan produk yang terbebas dari unsur-unsur kimia berbahaya, kuantitas dan kualitas, serta harga produk juga jauh lebih baik.
    SRI sampai kini masih juga belum mendapat respon positif dari para petani kita, karena pada umumnya petani kita beranggapan dan beralasan bahwa walaupun hasilnya sangat menjanjikan, tetapi sangat merepotkan petani dalam proses budidayanya.

    Selain itu petani kita sudah terbiasa dan terlanjur termanjakan oleh system olah lahan yang praktis dan serba instan dengan menggunakan pupuk dan pestisida kimia, sehingga umumnya sangat berat menerima metoda SRI ini.
    Mungkin tunggu 5 tahun lagi setelah melihat petani tetangganya berhasil menerapkan metode tersebut.

    Kami tawarkan solusi yang lebih praktis yang perlu dipertimbangkan dan sangat mungkin untuk dapat diterima oleh masyarakat petani kita untuk dicoba, yaitu:

    "BERTANI DENGAN POLA GABUNGAN SISTEM SRI DIPADUKAN DENGAN PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK AJAIB SO / AVRON / NASA + EFFECTIVE MICROORGANISME 16 PLUS (EM16+), DENGAN SISTEM JAJAR LEGOWO", hasilnya lebih baik, bisa meningkat 1 -- 4 kali disbanding pola bertani biasa.

    Cara gabungan ini hasilnya tetap PADI ORGANIK yang ramah lingkungan seperti yang dikehendaki pada pola SRI, tetapi cara pengolahan tanah sawahnya lebih praktis, dan hasilnya bisa meningkat 100% — 400% dibanding pola tanam konvensional seperti sekarang.

    Ditunggu komentarnya di omyosa@gmail.com, atau di 02137878827, 081310104072, atau bisa juga komentar langsung di http://frigiddanlemahsahwat.blogspot.com/2011/07/pertanian-pembangunan-pertanian.html

    BalasHapus
  4. MARI KITA BUAT PETANI TERSENYUM KETIKA PANEN TIBA (lanjutan)

    PUPUK ORGANIK AJAIB SO/AVRON/NASA merupakan pupuk organik lengkap yang memenuhi kebutuhan unsur hara makro dan mikro tanah dengan kandungan asam amino paling tinggi yang penggunaannya sangat mudah,
    sedangkan EM16+ merupakan cairan bakteri fermentasi generasi terakhir dari effective microorganism yang sudah sangat dikenal sebagai alat composer terbaik yang mampu mempercepat proses pengomposan dan mampu menyuburkan tanaman dan meremajakan/merehabilitasi tanah rusak akibat penggunan pupuk dan pestisida kimia yang tidak terkendali,
    sementara itu yang dimaksud sistem jajar legowo adalah sistem penanaman padi yang diselang legowo/alur/selokan, bisa 2 padi selang 1 legowo atau 4 padi selang 1 legowo dan yang paling penting dalam tani pola gabungan ini adalah relative lebih murah.

    CATATAN:
    1. Bagi Anda yang bukan petani, tetapi berkeinginan memakmurkan/mensejahterakan petani sekaligus ikut mengurangi tingkat pengangguran dan urbanisasi masyarakat pedesaan, dapat melakukan uji coba secara mandiri system pertanian organik ini pada lahan kecil terbatas di lokasi komunitas petani sebagai contoh (demplot) bagi masyarakat petani dengan tujuan bukan untuk Anda menjadi petani, melainkan untuk meraih tujuan yang lebih besar lagi, yaitu ANDA MENJADI AGEN SOSIAL penyebaran informasi pengembangan system pertanian organik diseluruh wilayah Indonesia.
    2. Cara bertani organik tidak saja hanya untuk budidaya tanaman padi sawah, tetapi bisa juga untuk berbagai produk-produk Agro Bisnis yang meliputi pertanian (padi, palawija, buah dan sayuran), perkebunan, perikanan, dan peternakan.

    Hasil panen setelah menggunakan Pupuk Ajaib SO
    Kesaksian untuk tanaman pertanian tanpa pestisida kimia, dan perangsang tumbuh tambahan lainnya :
    * Cabe Organik bias mencapai 6 kg/pohon, dan umur tanaman bisa sampai 3 tahun.
    * Padi Organik bias mencapai rata-rata 16—24 ton / hektar.
    * Bawang Merah Organik bisa mencapai diatas 24--36 ton / hektar
    * Jamur Tiram Organik bisa meningkat 300 % dari biasanya, dan bebas ulat !
    * Bawang Daun Organik bisa mencapai rata-rata 1 kg/batang
    * Kol Organik bisa mencapai rata-rata 5-8 kg/pohon
    * Sawit yg sudah tidak produktif bisa kembali lagi produktif, sedangkan yg diberi pupuk
    kimia tidak ada perubahan
    Kesaksian untuk hewan dan ikan tanpa vaksin, antibiotik, dan vitamin lainnya :
    * Nila 3cm dirawat 2 minggu bisa sebesar umur 2 bulan padahal pakannya hanya
    ampas tahu & bekatul.
    * Bebek afkir yang biasanya telurnya hanya 10% bisa meningkat jadi 50% lebih.
    * Sapi beratnya meningkat di atas 1,5 kg/hari padahal pakannya hanya daun-
    daunan saja.
    * Broiler bisa panen pada hari ke 28-29 berat 1,5-1,7 kg
    * Pembibitan lele angka kematian bisa sampai pada 0%
    * Budidaya belut bibit 3 bulan bisa mencapai berat rata-rata 500 gram/ ekor
    * Lele 5—7 cm bisa panen dalam waktu 29 hari

    Semoga petani kita bisa tersenyum ketika datang musim panen.

    AYOOO PARA PETANI DAN SIAPA SAJA YANG PEDULI PETANI!!!! SIAPA YANG AKAN MEMULAI? KALAU TIDAK KITA SIAPA LAGI? KALAU BUKAN SEKARANG KAPAN LAGI?

    Anda siap menjadi donatur bagi pekerja sosial agen penyebaran informasi, atau Anda sendiri merangkap sebagai pekerja sosial agen penyebaran informasi itu dilokasi sekitar anda berada, atau pada wilayah yang lebih luas lagi diseluruh Indonesia?

    Ditunggu komentarnya di omyosa@gmail.com, atau di 02137878827, 081310104072, atau bisa juga komentar langsung di http://frigiddanlemahsahwat.blogspot.com/2011/07/pertanian-pembangunan-pertanian.html

    BalasHapus